Penyebaran Terumbu Karang di Indonesia
Penyebaran
terumbu karang terbatas hanya di antara 30˚ Lintang Utara dan 30˚ Lintang
Selatan atau daerah tropika dan subtropika dengan total luas sekitar 617.000 km2.
Lautan yang memiliki terumbu karang paling luas adalah Samudra Pasifik dengan
335.000 km2, kemudian Samudra Hindia (185.000 km2) dan
terakhir Samudra Atlantik (87.000 km2)
(http;//www.terangi.or.id,
2009).
Terumbu karang sangat sensitive
terhadap salinitas rendah dan sedimentasi, akibatnya mereka tidak hadir
dimanapun ada yang berlebihan masuk nya air lumpur segar, meskipun kondisi
sebaik-baik mungkin menguntungkan tidak ada nya terumbu karang disepanjang banyak
garis pantai. Tropis pantai alantic dari amerika selatan missal nya karna
pengaruh sungai besar seperti amazon dan Orinoco. Kondisi yang optimal terjadi
dilaut merah, sekitar pulau-pulau lepas pantai di carnibean dan indo fasifik
disepanjang daerah pantai timur Australia, daerah dimana territorial run off
minimal atau lokasi dibatasi, terumbu karang toleran terhadap kondisi
hypersalin dan diteluk Persia berkembang disalinitas melebihi 40% (Seed,1985).
Seperti yang diutarakan
sebelumnya bahwa karang tumbuh subur di perairan laut tropis, walaupun ada
beberapa diantaranya yang juga dijumpai di perairan laut subtropis. Di dunia
ada tiga daerah pengelompokan terumbu karang, dua diantaranya adalah
berada di Indonesia
Barat (Indo-Pacifik) dan
Caribbea (Atlantic) dan yang
ketiga terletak di daerah sebelah
selatan Samudera Hindia (Indo-Pacifik).
Indonesia memiliki keanekaragaman jenis yang sedikit tinggi dibandingkan dengan
yang terdapat di samudera Hindia. Secara umum jumlah species karang (reef building
corals) yang tumbuh di Indo-Pacific cenderung lebih banyak dibandingkan dengan
di Atlantic (Supriharyono, 2000).
Ekosistem terumbu karang dunia diperkirakan meliputi luas
600.000 km2, dengan batas sebaran di sekitar perairan dangkal laut
tropis, antara 30 °LU dan 30 °LS. Terumbu karang dapat ditemukan di 109 negara
di seluruh dunia, namun diduga sebagian besar dari ekosistem ini telah
mengalami kerusakan atau dirusak oleh kegiatan manusia setidaknya terjadi di 93
negara. Gambar 1 memperlihatkan peta lokasi sebaran ekosistem terumbu karang di
seluruh dunia.
Berdasarkan distribusi geografinya maka 60% dari terumbu
dunia ditemukan di Samudera Hindia dan Laut Merah, 25% berada di Samudera
Pasifik dan sisanya 15% terdapat di Karibia. Pembagian wilayah terumbu karang
dunia :
a.
Indo-Pasifik
Region Indo-Pasifik terbentang mulai dari Asia Tenggara
sampai ke Polinesia dan Australia, ke bagian barat sampai ke Samudera sampai
Afrika Timur. Region ini merupakan bentangan terumbu karang yang terbesar dan
terkaya dalam hal jumlah spesies karang, ikan dan moluska.
b. Atlantik bagian barat
Region Atlantik Barat terbentang dari Florida sampai Brazil,
termasuk daerah Bermuda, Bahamas, Karibia, Belize dan Teluk Meksiko.
c. Laut Merah
Region
Laut Merah, terletak di antara Afrika dengan Saudi Arabia.
Menurut Wells, 1954 dan
Rosen, 1971 pada table penyebaran genera karang
(hermatypic corals) di Indo-Pasifik, bahwa distribusi terumbu karang di
Indonesia yaitu Teluk Jakarta jumlah generanya 45, Sumatera bagian utara jumlah
generanya 5, Nias jumlah generanya 5, Flores bagian selatan dan Timor bagian
barat jumlah generanya 13, Celebes jumlah generanya 57 dan Jawa Barat jumlah
generanya 7 (Supriharyono, 2000).
Menurut Kasim Moosa et al, 1996 di Indonesia menempati area
seluas 7.500 km² dari luas periran Indonesia, berdasarkan hasil penelitian
jenis karang yang mendominasi di perairan tersebut adalah dari genera Acropora, Montipora, dan Porites,
dan mempunyai jumlah species yang cukup banyak. Sebagai contoh genus Acropora di Sumatera Barat tercatat ada
49 species, laut Jawa ada 63 species, Sulawesi Selatan ada 75 species, Flores
dan Sumbawa ada 68 species dan di Manado, Sulawesi Utara tercatat ada 63
species (Supriharyono, 2000).
Menurut Wibisono, 2005
di Indonesia terdapat sekitar 30‑an lokasi kawasan pelestarian sumber daya alam
laut yang melestarikan terumbu karang seperti taman nasional laut di Pulau
Pombo dan kepulauan Mentawai, cagar alam laut di kawasan Krakatau, perairan
Kendari, Teluk Lampung, perairan Kepala Burung di Papua Barat, cagar biosfer
laut di Teluk Lampung, taman wisata laut di pantai pelabuhan Ratu, pulau
Panaitan, pulau Peucang di Ujung Kulon, Kep. Seribu, Nusa penida, Lombok Barat,
perairan Sulawesi Selatan dan Tenggara dan perairan pantai Bintan Utara (kep. Riau).
Sebagian besar terumbu karang dunia (55%) terdapat Indonesia,
Pilipina, Australia Utara dan Kepulauan Pasifik, 30% di Lautan Hindia dan Laut
Merah. 14% di Karibia dan 1% di Atlantik Utara. Terumbu karang Indonesia yang
mencapai 60.000 km2 luasnya, sebagian besar berada di Indonesia
bagian tengah, Sulawesi, Bali dan Lombok, Papua, Pulau Jawa, Kepulauan Riau dan
pantai Barat serta ujung barat daya Pulau Sumatera (http;//www.goblue.id, 2009).
Terumbu karang merupakan ekosistem khas perairan
dangkal daerah tropis dan terbatas pada daerah sub tropis. Konsentrasinya
sebaran terumbu karang tidak ditemukan pada daerah lintang sedang dan tinggi
dengan sebaran optimal pada 28˚ Lintang Utara
sampai 32˚ Lintang Selatan dengan
sebaran ekstrim pada > 40˚ Lintang
Selatan. Sebaran terumbu secara vertical dibatasi pada kedalaman tertentu
dengan kedalaman optimal 0-20 meter. Sebaran terumbu seperti ini lebih dibatasi
oleh ketersedian substrat dan kejernihan perairan. Meskipun beberapa karang
dapat dijumpai dari lautan subtropis tetapi spesies yang membentuk karang hanya
terdapat di daerah tropis. Kehidupan karang dibatasi oleh kedalaman yang
biasanya kurang dari 25 m dengan suhu rata-rata minimum dalam setahun sebesar
10˚ C. Pertumbuhan maksimum terumbu karang terjadi pada kedalaman kurang 9 dari
10 m dan suhu sekitar 25˚ C sampai 29˚ C
Terumbu karang banyak ditemukan di perairan tropis
seperti Indonesia dan juga di daerah sub tropis yang dilewari aliran arus
hangat dari daerah tropis seperti Florida, Amerika Serikat dan bagian selatan
Jepang. Karang membutuhkan perairan dangkal dan bersih yang dapat ditembus
cahaya matahari yang digunakan oleh zooxanthellae untuk berfotosintesis.
Pertumbuhan karang pembentuk terumbu pada kedalaman 18 – 29 m sangat lambat
tetapi masih ditemukan hingga kedalaman iebih dari 90 m. Karang memerlukan
salinitas yang tinggi untuk tumbuh, oleh karena itu, di sekitar mulut sungai
atau pantai atau sekitar pemukiman penduduk akan lambat karena karang
membutuhkan perairan yang kadar garamnya sesuai untuk hidup (http://www.goblue.or.id, 2009).
Menurut
Nybakken, 1988 faktor fisik kimia yang mempengaruhi pertumbuhan karang adalah :
1.
Suhu
Hampir
semua terumbu karang hanya ditemukan pada perairan yang
dibatasi oleh permukaan
yang isoterm 20˚ C. Perkembangan terumbu
karang
yang paling optimal terjadi di perairan yang rata-rata suhu
tahunannya
23-25˚ C. Terumbu karang dapat bertoleransi sampai suhu kira
- kira 36-40˚ C
2. Cahaya
Cahaya yang cukup harus tersedia
agar fotosisntesis oleh zooxanthellae
dapat berlangsung. Titik kompensasi
untuk karang dimana intensitas
cahaya lebih rendah 15-20% dari intensitas di permukaan.
3.
Salinitas
Karang hermatipik adalah organisme
lautan sejati dan tidak dapat bertahan
pada salinitas yang menyimpang dari salinitas air laut yang normal
(32-35‰).
4.
Sedimentasi
Kebanyakan karang hermatipik tidak
dapat bertahan dengan adanya
endapan yang berat, yang
menutupinya dan menyumbat struktur
pemberian makanannya, dan
mengurangi cahaya yang dibutuhkan untuk
fotosintesis oleh zooxanthellae untuk berfotontesis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar