Jumat, 02 Desember 2011

distribusi terumbu karang

Penyebaran Terumbu Karang di Indonesia

Penyebaran terumbu karang terbatas hanya di antara 30˚ Lintang Utara dan 30˚ Lintang Selatan atau daerah tropika dan subtropika dengan total luas sekitar 617.000 km­­­2. Lautan yang memiliki terumbu karang paling luas adalah Samudra Pasifik dengan 335.000 km2, kemudian Samudra Hindia (185.000 km2) dan terakhir Samudra Atlantik  (87.000 km2) (http;//www.terangi.or.id, 2009).
            Terumbu karang sangat sensitive terhadap salinitas rendah dan sedimentasi, akibatnya mereka tidak hadir dimanapun ada yang berlebihan masuk nya air lumpur segar, meskipun kondisi sebaik-baik mungkin menguntungkan tidak ada nya terumbu karang disepanjang banyak garis pantai. Tropis pantai alantic dari amerika selatan missal nya karna pengaruh sungai besar seperti amazon dan Orinoco. Kondisi yang optimal terjadi dilaut merah, sekitar pulau-pulau lepas pantai di carnibean dan indo fasifik disepanjang daerah pantai timur Australia, daerah dimana territorial run off minimal atau lokasi dibatasi, terumbu karang toleran terhadap kondisi hypersalin dan diteluk Persia berkembang disalinitas melebihi 40% (Seed,1985).
Seperti yang diutarakan sebelumnya bahwa karang tumbuh subur di perairan laut tropis, walaupun ada beberapa diantaranya yang juga dijumpai di perairan laut subtropis. Di dunia ada tiga daerah pengelompokan terumbu karang, dua diantaranya   adalah   berada di  Indonesia  Barat  (Indo-Pacifik)  dan    Caribbea (Atlantic) dan yang  ketiga  terletak di daerah  sebelah  selatan Samudera Hindia  (Indo-Pacifik). Indonesia memiliki keanekaragaman jenis yang sedikit tinggi dibandingkan dengan yang terdapat di samudera Hindia. Secara umum jumlah species karang (reef building corals) yang tumbuh di Indo-Pacific cenderung lebih banyak dibandingkan dengan di Atlantic (Supriharyono, 2000).
            Ekosistem terumbu karang dunia diperkirakan meliputi luas 600.000 km2, dengan batas sebaran di sekitar perairan dangkal laut tropis, antara 30 °LU dan 30 °LS. Terumbu karang dapat ditemukan di 109 negara di seluruh dunia, namun diduga sebagian besar dari ekosistem ini telah mengalami kerusakan atau dirusak oleh kegiatan manusia setidaknya terjadi di 93 negara. Gambar 1 memperlihatkan peta lokasi sebaran ekosistem terumbu karang di seluruh dunia.
                                         
Berdasarkan distribusi geografinya maka 60% dari terumbu dunia ditemukan di Samudera Hindia dan Laut Merah, 25% berada di Samudera Pasifik dan sisanya 15% terdapat di Karibia. Pembagian wilayah terumbu karang dunia :
a. Indo-Pasifik
Region Indo-Pasifik terbentang mulai dari Asia Tenggara sampai ke Polinesia dan Australia, ke bagian barat sampai ke Samudera sampai Afrika Timur. Region ini merupakan bentangan terumbu karang yang terbesar dan terkaya dalam hal jumlah spesies karang, ikan dan moluska.
b. Atlantik bagian barat
Region Atlantik Barat terbentang dari Florida sampai Brazil, termasuk daerah Bermuda, Bahamas, Karibia, Belize dan Teluk Meksiko.
c. Laut Merah
Region Laut Merah, terletak di antara Afrika dengan Saudi Arabia.
 (www.ubb.com, 2011).
Menurut Wells, 1954 dan Rosen, 1971 pada table penyebaran genera karang  (hermatypic corals) di Indo-Pasifik, bahwa distribusi terumbu karang di Indonesia yaitu Teluk Jakarta jumlah generanya 45, Sumatera bagian utara jumlah generanya 5, Nias jumlah generanya 5, Flores bagian selatan dan Timor bagian barat jumlah generanya 13, Celebes jumlah generanya 57 dan Jawa Barat jumlah generanya 7 (Supriharyono, 2000).
Menurut Kasim Moosa et al, 1996 di Indonesia menempati area seluas 7.500 km² dari luas periran Indonesia, berdasarkan hasil penelitian jenis karang yang mendominasi di perairan tersebut adalah dari genera Acropora, Montipora, dan Porites, dan mempunyai jumlah species yang cukup banyak. Sebagai contoh genus Acropora di Sumatera Barat tercatat ada 49 species, laut Jawa ada 63 species, Sulawesi Selatan ada 75 species, Flores dan Sumbawa ada 68 species dan di Manado, Sulawesi Utara tercatat ada 63 species  (Supriharyono, 2000).
Menurut Wibisono, 2005 di Indonesia terdapat sekitar 30‑an lokasi kawasan pelestarian sumber daya alam laut yang melestarikan terumbu karang seperti taman nasional laut di Pulau Pombo dan kepulauan Mentawai, cagar alam laut di kawasan Krakatau, perairan Kendari, Teluk Lampung, perairan Kepala Burung di Papua Barat, cagar biosfer laut di Teluk Lampung, taman wisata laut di pantai pelabuhan Ratu, pulau Panaitan, pulau Peucang di Ujung Kulon, Kep. Seribu, Nusa penida, Lombok Barat, perairan Sulawesi Selatan dan Tenggara dan perairan pantai Bintan Utara (kep. Riau).
Sebagian besar terumbu karang dunia (55%) terdapat Indonesia, Pilipina, Australia Utara dan Kepulauan Pasifik, 30% di Lautan Hindia dan Laut Merah. 14% di Karibia dan 1% di Atlantik Utara. Terumbu karang Indonesia yang mencapai 60.000 km2 luasnya, sebagian besar berada di Indonesia bagian tengah, Sulawesi, Bali dan Lombok, Papua, Pulau Jawa, Kepulauan Riau dan pantai Barat serta ujung barat daya Pulau Sumatera (http;//www.goblue.id, 2009).
Terumbu karang merupakan ekosistem khas perairan dangkal daerah tropis dan terbatas pada daerah sub tropis. Konsentrasinya sebaran terumbu karang tidak ditemukan pada daerah lintang sedang dan tinggi dengan sebaran optimal pada 28˚  Lintang Utara sampai 32˚  Lintang Selatan dengan sebaran ekstrim pada > 40˚  Lintang Selatan. Sebaran terumbu secara vertical dibatasi pada kedalaman tertentu dengan kedalaman optimal 0-20 meter. Sebaran terumbu seperti ini lebih dibatasi oleh ketersedian substrat dan kejernihan perairan. Meskipun beberapa karang dapat dijumpai dari lautan subtropis tetapi spesies yang membentuk karang hanya terdapat di daerah tropis. Kehidupan karang dibatasi oleh kedalaman yang biasanya kurang dari 25 m dengan suhu rata-rata minimum dalam setahun sebesar 10˚ C. Pertumbuhan maksimum terumbu karang terjadi pada kedalaman kurang 9 dari 10 m dan suhu sekitar 25˚ C sampai 29˚ C
Terumbu karang banyak ditemukan di perairan tropis seperti Indonesia dan juga di daerah sub tropis yang dilewari aliran arus hangat dari daerah tropis seperti Florida, Amerika Serikat dan bagian selatan Jepang. Karang membutuhkan perairan dangkal dan bersih yang dapat ditembus cahaya matahari yang digunakan oleh zooxanthellae untuk berfotosintesis. Pertumbuhan karang pembentuk terumbu pada kedalaman 18 – 29 m sangat lambat tetapi masih ditemukan hingga kedalaman iebih dari 90 m. Karang memerlukan salinitas yang tinggi untuk tumbuh, oleh karena itu, di sekitar mulut sungai atau pantai atau sekitar pemukiman penduduk akan lambat karena karang membutuhkan perairan yang kadar garamnya sesuai untuk hidup (http://www.goblue.or.id, 2009).
 Menurut Nybakken, 1988 faktor fisik kimia yang mempengaruhi pertumbuhan karang adalah :
1.      Suhu
           Hampir semua terumbu karang hanya ditemukan pada perairan yang     
dibatasi oleh permukaan yang isoterm 20˚ C. Perkembangan terumbu
           karang yang paling optimal terjadi di perairan yang rata-rata suhu        
tahunannya 23-25˚ C. Terumbu karang dapat bertoleransi sampai suhu kira - kira 36-40˚ C
2.      Cahaya
            Cahaya yang cukup harus tersedia agar fotosisntesis oleh zooxanthellae
            dapat berlangsung. Titik kompensasi untuk karang dimana intensitas    
cahaya lebih rendah 15-20% dari intensitas di permukaan.
3.      Salinitas
            Karang hermatipik adalah organisme lautan sejati dan tidak dapat bertahan  
            pada salinitas yang menyimpang dari salinitas air laut yang normal 
(32-35‰).
4.      Sedimentasi
            Kebanyakan karang hermatipik tidak dapat bertahan dengan adanya
            endapan yang berat, yang menutupinya dan menyumbat struktur
            pemberian makanannya, dan mengurangi cahaya yang dibutuhkan untuk
            fotosintesis oleh zooxanthellae untuk berfotontesis
            (http://www.tutorialkuliah.com, 2011).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar